Berita  

Petani Sawit Kelompu Sanggau Desak Prioritas TBS Lokal, Pengalihan Pasokan dari Ngabang Jadi Sorotan

Oplus_131072
banner 468x60

 

*SANGGAU KALBAR,Kalbar.wartanewstv.com—* Keresahan petani kelapa sawit di Desa Kelompu dan wilayah sekitarnya mencuat menyusul persoalan kuota penerimaan Tandan Buah Segar (TBS) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN IV Regional V Kembayan. Antrean kendaraan pengangkut buah serta tuntutan agar TBS petani lokal mendapat prioritas kini menjadi perhatian petani dan meminta respons dari pihak perusahaan.

Petani plasma dan swadaya di wilayah kerja PTPN IV Regional V Kebun Kembayan menyepakati pernyataan sikap pada Senin, 19 Oktober 2026. Mereka mendesak perusahaan mengutamakan penerimaan TBS petani lokal serta mengevaluasi pasokan dari luar wilayah ketika kapasitas penerimaan pabrik terbatas.

Perwakilan petani, Phaul Yansen, menegaskan bahwa perjuangan untuk menyampaikan aspirasi tersebut akan terus berlanjut hingga mendapat perhatian.

“Kami akan tetap memperjuangkan apa yang sudah kami mulai,” tegas
Phaul Yansen.
Kepada wartawan
Rabu, 21/10/26.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan petani agar persoalan penerimaan TBS segera mendapatkan penyelesaian konkret, terutama terkait kepastian pemasaran hasil panen mereka.

## Petani Minta TBS Lokal Diprioritaskan

Dalam dokumen pernyataan sikap, petani plasma dan swadaya meminta PKS PTPN IV Regional V Kembayan memprioritaskan TBS milik petani lokal.

Mereka juga meminta perusahaan tidak menerima TBS dari petani plasma dan swadaya di luar wilayah kerja PTPN IV Regional V apabila kuota penerimaan tidak mencukupi. Permintaan tersebut turut mencakup TBS kebun inti yang berasal dari luar Kebun Kembayan.

Selain persoalan kuota, petani berharap pembelian TBS mengacu pada harga yang telah ditetapkan Dinas Perkebunan (Disbun).

Dalam poin terakhir pernyataan sikap, petani menyatakan siap melakukan aksi lanjutan di PKS PTPN IV Regional V Kembayan apabila aspirasi mereka tidak mendapat tanggapan.

Bagi petani, kepastian penerimaan buah merupakan bagian penting dari keberlangsungan usaha perkebunan. Keterbatasan kuota yang disertai antrean kendaraan berpotensi menghambat kelancaran penjualan hasil panen dan menambah ketidakpastian bagi petani.

## Pesan Manajemen Menjadi Perhatian

Di tengah tuntutan tersebut, Phaul Yansen meneruskan kepada awak media sebuah pesan dari manajemen PKS Kembayan yang diterimanya melalui percakapan pribadi.

Dalam pesan tersebut, manajemen menyampaikan :

> “Saya tidak bisa membatasi TBS kebun inti yang dari luar Kebun Kembayan.”

Pesan itu memberikan gambaran mengenai kendala pembatasan pasokan TBS kebun inti dari luar wilayah Kembayan sebagaimana disampaikan kepada perwakilan petani.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu hal yang disoroti dalam tuntutan petani, yang menginginkan adanya pengaturan penerimaan TBS secara jelas agar pasokan, dari petani lokal tetap mendapat kepastian ketika kuota pabrik terbatas.

## Memo Pengalihan TBS dari Ngabang Jadi Sorotan

Persoalan penerimaan TBS di PKS Kembayan kembali menjadi perhatian setelah terbit memo elektronik PTPN IV Regional V tertanggal 20 Oktober 2026, bernomor **5TEP/KOL/eM-616/X/2026**, dengan perihal _Pengalihan TBS Kebun Inti Ngabang ke PKS Kembayan_.

Dalam memo yang diterbitkan Bagian Teknik dan Pengolahan tersebut, perusahaan menjelaskan bahwa PKS Ngabang menghadapi tingginya restan atau penumpukan TBS yang disebut mencapai 500 ton. Dokumen itu juga menyebut sebagian besar persediaan minyak sawit mentah atau _crude palm oil_ (CPO) memiliki kadar asam lemak bebas (ALB) di atas 5 persen.

Untuk mengoptimalkan pengolahan TBS sekaligus menjaga kualitas CPO agar memenuhi persyaratan kontrak penjualan, perusahaan menetapkan pengalihan produksi kebun inti Ngabang ke PKS Kembayan.

Memo tersebut juga meminta PKS Kembayan menyesuaikan jam timbang penerimaan TBS agar dapat mengakomodasi produksi kebun inti Ngabang. Pengalihan itu berlaku hingga kondisi restan TBS di PKS Ngabang kembali normal.

Dokumen tersebut menjelaskan alasan operasional di balik kebijakan pengalihan pasokan. Namun, memo itu tidak mencantumkan besaran kuota penerimaan yang tersedia bagi petani lokal maupun data yang memastikan sejauh mana pengalihan tersebut berdampak terhadap antrean kendaraan di PKS Kembayan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena petani setempat pada saat yang sama meminta kepastian bahwa hasil panen mereka tetap memperoleh prioritas penerimaan.

## Petani Menunggu Solusi dan Kepastian

Pernyataan sikap yang disepakati pada 19 Oktober 2026 menjadi penanda tuntutan petani plasma dan swadaya agar perusahaan memberikan tanggapan serta langkah penyelesaian yang jelas.

Petani berharap terdapat pengaturan penerimaan TBS yang memberikan kepastian bagi produksi lokal, terutama ketika pabrik harus mengakomodasi pasokan dari wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Hingga persoalan tersebut memperoleh kejelasan, Phaul Yansen menegaskan bahwa petani akan tetap memperjuangkan aspirasi yang telah mereka sepakati.

Petani kini menantikan respons perusahaan terkait tuntutan prioritas TBS lokal, pengaturan kuota penerimaan, serta mekanisme pengalihan pasokan dari Ngabang ke PKS Kembayan.

*(Sopian)*

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *