**SANGGAU, Kalbar.wartanewstv.com** — Sejumlah perwakilan petani kelapa sawit di Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, meminta manajemen PTPN IV Regional 5 mengevaluasi kebijakan kuota penerimaan tandan buah segar (TBS) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Desa Kelompu. Pasalnya, pembatasan kuota dinilai menyebabkan antrean kendaraan pengangkut buah berlangsung hingga berhari-hari.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Manajer PKS PTPN IV Regional 5, Budi, di ruang rapat kantor pabrik pada
Selasa, (13/10/2026), sekitar pukul 13.00 WIB.
Pertemuan itu dihadiri Phaul Yansen, petani sekaligus Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kelompu; Abet, petani sekaligus pihak ketiga atau gandil; serta Efan, petani kelapa sawit.
Dalam pertemuan tersebut, para petani mengeluhkan lamanya waktu tunggu penimbangan akibat terbatasnya kuota penerimaan TBS. Mereka berharap perusahaan mengambil langkah konkret agar antrean kendaraan tidak terus berlarut-larut dan buah hasil panen tidak tertahan terlalu lama di dalam bak kendaraan sebelum ditimbang dan diolah.
## Petani Keluhkan Buah Tertahan Berhari-hari
Phaul Yansen mengatakan, antrean yang berlangsung berhari-hari membuat buah sawit tertahan di bak mobil. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi kualitas buah sebelum memasuki proses pengolahan.
“Kami minta tolong bagaimana caranya agar pihak manajemen bisa memperhatikan kami sebagai petani. Buah sawit yang kami kirim mengantre sampai berhari-hari sehingga menjadi restan di bak mobil,” ujar Phaul Yansen saat menyampaikan aspirasinya kepada manajer PKS.
Menurutnya, diperlukan perhatian serius dari manajemen agar pelayanan penerimaan dan penimbangan TBS dapat berjalan lebih baik, sehingga petani tidak harus menunggu terlalu lama untuk menjual hasil panennya.
Senada dengan itu, Abet mengusulkan agar perusahaan mempertimbangkan penghentian sementara penerimaan TBS dari luar wilayah kebun Kembayan atau menambah kuota penerimaan buah.
“Kami minta tolong agar para petani diperhatikan. Kalau bisa, hentikan sementara penerimaan buah dari luar kebun Kembayan atau kuota TBS ditambah agar antrean mobil tidak sampai berhari-hari,”kata
Abet.
Sementara itu, Efan mengaku telah mengantre sejak Sabtu (10/10/2026), tetapi hingga Selasa (13/10/2026) belum dapat melakukan penimbangan buah. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pembatasan kuota penerimaan TBS di pabrik.
Selain lamanya waktu tunggu, Efan juga mengaku kehilangan beberapa tandan buah sawit yang berada di kendaraannya selama mengantre.
“Saya sudah antre dari Sabtu sampai hari ini belum bisa menimbang buah karena adanya pembatasan kuota penerimaan TBS. Buah sawit di mobil saya juga hilang beberapa tandan,” ungkap Efan.
Terkait pengakuan kehilangan tandan sawit tersebut, masih diperlukan klarifikasi dari pihak terkait untuk memastikan kronologi dan penyebab kejadian.
## Manajemen Akui Pembenahan Pabrik Membutuhkan Waktu
Menanggapi keluhan petani, Manajer PKS PTPN IV Regional 5, Budi, menjelaskan bahwa sejak mulai menjabat, dirinya menghadapi kondisi pabrik yang membutuhkan pembenahan di berbagai bagian.
Menurut Budi, langkah awal yang dilakukan adalah menata sistem kerja dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menilai, peralatan yang canggih tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung tenaga kerja yang memadai.
Budi mengakui masih banyak bagian pabrik yang membutuhkan perbaikan. Namun, pembenahan tersebut tidak dapat dilakukan sekaligus dan harus dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi serta kemampuan perusahaan.
“Perbaikan pabrik luar biasa banyak, tetapi tidak bisa sekaligus. Perbaikan akan tetap dilanjutkan secara bertahap,” ujarnya.
Ia menyampaikan, unit rebusan kedua telah siap, sedangkan penambahan satu unit rebusan lainnya direncanakan pada 2027. Selain itu, manajemen berencana melanjutkan pembenahan pada bagian pengepresan, unit rebusan buah, dan ketel.
Khusus untuk ketel, Budi menjelaskan bahwa peralatan tersebut dinilai sudah tidak layak beroperasi dan memerlukan pembenahan serius. Proses perbaikannya membutuhkan biaya besar sehingga harus direncanakan secara bertahap.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kapasitas pengolahan TBS di pabrik. Karena itu, pembenahan akan terus dilanjutkan sesuai kebutuhan dan kemampuan perusahaan.
## Kerusakan Pabrik Ngabang Berdampak pada Penerimaan TBS di Kelompu
Selain persoalan kuota, penerimaan TBS dari kebun inti Ngabang dan kebun lainnya di luar wilayah Kembayan juga menjadi perhatian para petani.
Mereka menilai, kebijakan penerimaan buah dari luar wilayah perlu dievaluasi agar tidak semakin memperpanjang antrean kendaraan petani setempat.
Menanggapi hal itu, Budi menjelaskan bahwa penerimaan TBS dari kebun inti Ngabang berkaitan dengan kondisi pabrik di Ngabang yang mengalami kerusakan. Akibatnya, TBS dari kebun inti tersebut dialihkan untuk diterima di PKS PTPN IV Regional 5, Desa Kelompu.
Meski demikian, Budi menyatakan tidak dapat mengambil keputusan secara langsung untuk menghentikan penerimaan TBS dari luar wilayah Kembayan. Menurutnya, kebijakan tersebut berkaitan dengan perjanjian internal yang telah ditetapkan di lingkungan perusahaan.
Dengan demikian, usulan penghentian sementara penerimaan TBS dari kebun inti Ngabang dan kebun lainnya di luar wilayah Kembayan masih memerlukan pembahasan lebih lanjut serta keputusan dari pimpinan perusahaan yang berwenang.
## Petani Siapkan Musyawarah dan Surat kepada Pimpinan PTPN
Sebagai tindak lanjut pertemuan tersebut, perwakilan petani berencana menggelar musyawarah untuk menentukan langkah selanjutnya dalam memperjuangkan aspirasi mereka.
Mereka juga berencana menyurati pimpinan pusat PTPN guna meminta pertimbangan agar penerimaan TBS dari kebun inti Ngabang dan kebun lainnya di luar wilayah Kembayan dihentikan sementara waktu.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong evaluasi terhadap kebijakan kuota dan pola penerimaan TBS di PKS PTPN IV Regional 5, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan pengolahan pabrik serta kepentingan petani.
Para petani berharap perusahaan memberikan perhatian terhadap persoalan antrean yang mereka hadapi. Mereka menginginkan solusi yang dapat memperpendek waktu tunggu penimbangan, mengurangi risiko penurunan kualitas buah akibat terlalu lama tertahan di kendaraan, serta memberikan kepastian dalam penjualan hasil panen.
Hingga pertemuan berlangsung pada Selasa, (13/10/2026), belum ada keputusan yang disampaikan mengenai perubahan kuota penerimaan maupun penghentian sementara penerimaan TBS dari luar wilayah Kembayan. Usulan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut oleh perwakilan petani dan disampaikan kepada pimpinan perusahaan.
*(Red)*
*Sumber : Robert*











